Home / Tutorial  / Peristiwa Hard Fork Bitcoin Core VS Bitcoin Unlimited: Apa itu?

Peristiwa Hard Fork Bitcoin Core VS Bitcoin Unlimited: Apa itu?

Halo, Bitcoiners!

Bagi Anda pencinta Bitcoin dan Blockchain, pasti sudah tidak asing lagi mendengar kata ‘hard fork’ yang belakangan ini terus bermunculan di berita dan menjadi perdebatan hangat diantara penggunanya. Tapi seberapa jauh pemahaman Anda tentang peristiwa Hard Fork yang rentan terjadi di dunia Cryptocurrency? Mari kita baca penjelasannya dibawah ini.

Apakah penjelasan di atas membuat Anda bingung? Tenang, sesi tutorial kali ini tidak berhenti sampai disana.

Daripada memberi definisi yang sulit dipahami, mungkin sebaiknya kita mempelajari langsung melalui studi kasus Bitcoin. Apakah akhir-akhir ini Anda merasa transaksi Bitcoin lama sekali untuk mendapatkan 1 konfirmasi? Anda sudah memberikan miner fee standar yang tergolong tinggi, yaitu 0.0005 BTC dalam transaksi Anda. Seharusnya, transaksi Anda akan mendapatkan 1 konfirmasi dalam waktu 10-30 menit. Tapi kini 1 jam telah berlalu, dan transaksi Bitcoin Anda belum juga dikonfirmasi oleh jaringan Blockchain. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Anda pasti tahu betapa banyaknya transaksi Bitcoin yang terjadi akhir-akhir ini. Pada pertengahan 2009, hanya ada sekitar 100 transaksi Bitcoin yang diproses perharinya. Dari chart bisa Anda lihat betapa pesatnya kenaikan jumlah transaksi dari tahun ke tahun. Pada tanggal 2 Maret 2017, jumlah transaksi Bitcoin bahkan menyentuh angka 329,428 dalam 1 hari. Tapi apa masalahnya?

Masalahnya adalah 1 blok, yang munculnya setiap 10 menit sekali, hanya bisa menampung transaksi-transaksi Bitcoin hingga 1 MB, yang berarti hanya ada sekitar 3 transaksi yang bisa diproses tiap detiknya. Bila kita hitung, berarti dalam waktu 10 menit hingga blok berikutnya tercipta, ada 1,800 transaksi yang bisa diproses. Tapi perlu diingat belum tentu dalam satu blok benar-benar bisa memuat 1,800 transaksi. Terkadang satu blok memuat jumlah transaksi yang lebih sedikit karena kapasitas setiap data transaksi yang dimasukkan ke dalam blok lebih besar dari rata-rata. Jadi mungkin saja, satu blok hanya bisa memuat 1,500 transaksi, bukannya 1,800 transaksi.

Saat ini, setiap 10 menit ada sekitar 2,300 transaksi yang mengantri untuk diproses. Berhubung satu blok hanya bisa memuat 1,800 transaksi, berarti ada 500 transaksi yang masih mengantri untuk dimasukkan ke blok selanjutnya demi mendapatkan 1 konfirmasi. Ketika blok berikutnya muncul, jumlah transaksi yang mengantri sudah 3,000 transaksi dan blok baru tersebut hanya bisa menampung 1,800 transaksi. Berarti sekarang ada 1,200 transaksi yang mengantri dan begitu seterusnya. Transaksi yang akan diprioritaskan untuk masuk ke blok adalah transaksi yang miner feenya tinggi. Jadi bila transaksi Bitcoin Anda memiliki miner fee 0.0005 BTC, sedangkan 1,000 transaksi lain miner feenya mencapai 0.0009 BTC, maka Anda akan menunggu hingga berjam-jam sampai transaksi Anda terproses dan dimasukkan ke blok.

Grafik diatas menunjukkan rata-rata besarnya blok yang tercipta dari jaringan Bitcoin sejak pertama kali Bitcoin muncul hingga saat ini. Pada pertengahan tahun 2009, besar satu blok Bitcoin hanya mencapai 0.001 MB, namun tanggal 10 Maret 2017 kemarin, besar satu blok mencapai 0.992 MB–sudah hampir 1 MB! Seiring berjalannya waktu, transaksi Bitcoin akan semakin meningkat. Apa yang terjadi di masa depan bila saat ini saja kapasitas maksimal blok sudah hampir terpenuhi? Akan semakin banyak transaksi yang mengantri untuk dimasukkan ke blok, semakin banyak transaksi yang perlu dikonfirmasi, dan miner fee akan semakin mahal harganya. Bitcoin akan kehilangan sifat-sifat yang membuatnya jauh lebih baik daripada bank atau sistem finansial saat ini, yaitu: kecepatan transaksi dan murahnya biaya pengiriman uang.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Simple. You just have to upgrade it.

Sayangnya, proses ‘upgrade’ ini tidak semudah yang dibayangkan. Bitcoin, berhubung tidak dikontrol oleh suatu negara, pemerintah, atau pihak manapun, mengandalkan sistem konsensus untuk melakukan upgrade pada sistem. Bila besarnya blok Bitcoin hendak diubah dari 1 MB ke, katakanlah, 10 MB, maka setidaknya harus ada 51% dari para penambang seluruh dunia (yang menjalankan teknologi Bitcoin) yang setuju dengan perubahan tersebut. Meyakinkan 51% dari ratusan ribu penambang di dunia tentunya bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan bila 51% dari mereka setuju, belum berarti proses upgrade Bitcoin sudah berhasil tanpa masalah. Bila ada 51% penambang yang setuju, maka akan ada jaringan Bitcoin baru yang kapasitas tiap bloknya adalah 10 MB. Tapi 49% penambang yang lain juga bisa tetap menjalankan jaringan Bitcoin lama yang kapasitas tiap bloknya masih tetap 1 MB. Bila 49% penambang ini tidak setuju untuk melakukan upgrade ke jaringan Bitcoin yang baru, dan tetap memilih untuk menjalankan jaringan Bitcoin yang lama, maka akan ada dua jaringan Bitcoin yang berjalan di saat yang bersamaan. Inilah yang disebut Hard Fork, dimana jaringan Bitcoin menjadi bercabang, seperti ujung sebuah garpu.

Berarti, akan ada dua coin berbeda.

Ingat kasus Ethereum yang terpecah menjadi Ethereum dan Ethereum Classic? Ya, kasus ini juga bisa terjadi pada Bitcoin.

Saat ini ada dua kubu yang sedang berdebat untuk masalah Block Size Bitcoin ini, Bitcoin Core dan Bitcoin Unlimited. Bitcoin Core adalah jaringan Bitcoin yang kita gunakan saat ini, direpresentasikan dengan simbol BTC. Secara garis besar, Bitcoin Unlimited memiliki konsep yang sama namun kapasitas bloknya berbeda, bukan lagi 1 MB seperti yang ada di Bitcoin Core. Bitcoin Unlimited muncul dengan alasan untuk memperbaiki kekurangan di jaringan Bitcoin Core supaya transaksi Bitcoin bisa menjadi semakin cepat dikonfirmasi. Anggap saja di jaringan Bitcoin Unlimited, satu blok kapasitasnya mencapai 16 MB, berarti satu blok bisa memuat hingga 28,800 transaksi! Jauh lebih banyak daripada Bitcoin Core yang hanya bisa memproses maksimal 1,800 transaksi per 10 menit.

Tapi sayangnya, tidak semua orang menganggap Bitcoin Unlimited sebagai solusi terbaik. Banyak yang memperdebatkan sisi negatif dari Bitcoin Unlimited. Sebagai contoh, banyak yang menganggap bahwa untuk menciptakan kapasitas blok yang besar akan membutuhkan sumber daya computing yang besar juga, jadi hanya akan ada beberapa miner yang bisa melakukannya. Hal ini nantinya akan menimbulkan sentralisasi di jaringan Bitcoin. Selain itu, masih sempat beberapa kali ditemukan bug pada saat testing Bitcoin Unlimited yang tentunya membuat sejumlah pihak ragu untuk melakukan upgrade. Belum lagi bila kita berpikir risiko Bitcoin yang terpecah menjadi dua coin setelah Hard Fork terjadi. Tidak seperti dalam kasus forking biasa di mana waktu forking telah direncanakan sebelumnya, aktivasi jaringan Bitcoin Unlimited bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi. Ada peluang dimana pemisahan kedua coin tidak berjalan seutuhnya.

Hingga saat ini perdebatan masih berjalan dan belum ada kepastian apakah Bitcoin akan mengalami Hard Fork atau tidak dalam waktu dekat, dan kemungkinan untuk Hard Fork pun sebenarnya masih terbilang kecil. Namun bila memang kasus Hard Fork terjadi, setidaknya kali ini Anda sudah paham apa yang dimaksud dengan peristiwa Hard Fork dan mengapa hal ini diperlukan.

Sampai jumpa di tutorial selanjutnya, Bitcoiners!

Review overview